MENGUAK TABIR AVIAN INFLUENZA
(( Hal terbaik yang harus dilakukan terkait membumihanguskan AI adalah surveillance yang benar, bukan hanya perkataan namun tindakan nyata yang tidak memberikan tempat pada VAI untuk hidup dan berkembang biak di farm. ))
Recent status of AI in Indonesia and Javan, merupakan tema seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dengan Veterinary Medicine Faculty Hokaido University, Javan.
Seminar ini menghadirkan pakar-pakar AI kenamaan, yakni Prof Hiroshi Kida dari Vetmed Hokaido University, Prof Widya Asmara dan Prof Charles Rangga Tabbu dari FKH UGM Yogyakarta, Indonesia. Seminar yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 2008 silam ini mengetengahkan topik hangat seputar tabir terbaru perkembangan virus AI dari unggas ke manusia, babi ke manusia serta kemungkinan penularan dari manusia ke manusia.
Seminar ini dihadiri oleh para akademisi dari berbagai perguruan tinggi sebidang, kalangan pemerintah terkait, alumni FKH UGM, calon dokter hewan dan mahasiswa FKH UGM Yogyakarta.
Pada seminar kali ini, banyak hal menarik yang diketengahkan Prof Hiroshi Kida terkait status perkembangan VAI terkini, yakni Ekologi dan evolusi VAI. Hal dimaksud adalah (1) reservoir alaminya, perpetuation, host range, transmisi interspecies, antigenik dan variasi genetik VAI dan (2) mekanisme tanggap darurat strain pandemik pada manusia dan kasus-kasus HPAI pada unggas domestik.
Hal lain yang tak kalah menarik adalah adanya kemungkinan HPAIV strain H5N1 sebagai kandidat pemicu terjadinya kasus pandemic. Kemudian Prof Kida menegaskan bahwa harus ada kontrol yang baik untuk mengkounter kasus avian influenza dan kejadian pandemik pada manusia.
Berdasarkan hal ini, maka Prof Kida menyatakan bahwa hal terbaik yang harus dilakukan terkait membumihanguskan AI adalah surveillance yang benar, bukan hanya perkataan namun tindakan nyata yang tidak memberikan tempat pada VAI untuk hidup dan berkembang biak di farm.
Lain halnya dengan yang dikatakan Prof Widya Asmara. Menurutnya bahwa yang perlu dikuatirkan adalah kemungkinan terjadinya penularan VAI dari manusia ke manusia. Lebih lanjut dikisahkannya bahwa berdasarkan data epidemiologi kejadian kasus influenza di dunia, tercatat pada tahun 1997 mulai mewabahnya kasus avian influenza di Hong Kong, ditemukan 18 kasus pada manusia, 6 orang (33%) dinyatakan meninggal.
Kasus ini juga dilaporkan berdampak pada industri peternakan di Negara ini. Kemudian sejak tahun 1998 sampai dengan tahun 2002, kasus avian influenza terus berlanjut dengan terjadinya letupan-letupan kecil yang kurang mendapat perhatian publik. Pada tahun 2003, kembali avian influenza menjadi perhatian dunia. Pada saat ini dilaporkan telah terjadi kasus di 9 negara di dunia.
Wabah pada manusia meningkat menjadi 34 kasus yang berakhir dengan kematian sebanyak 23 orang (68%) dan menimbulkan kerugian sangat besar diindustri peternakan dunia termasuk Indonesia. Terakhir dilaporkan bahwa adanya temuan kasus di 4 negara dengan 7 temuan kasus pada manusia, 6 orang (86%) diantaranya meninggal dunia. Kemudian sejak tahun 2005 sampai sekarang VAI masih menjadi dilema dikalangan pengusaha peternakan, praktisi perunggasan, pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya.
Dilain pihak, pengendalian VAI di negeri ini masih menuai kegagalan-kegagalan. Hal ini disebabkan oleh kurang sinergisnya antara pelaku kebijakan dengan pihak-pihak terkait lainnya. Hal ini dikemukakan Prof Charles Rangga Tabbu secara gamblang dihadapan forum seminar. Menurutnya pengendalian VAI tidak disesuaikan dengan kondisi usaha peternakan negeri ini.
Data lapangan menyimpulkan bahwa kharakteristik usaha peternakan Indonesia meliputi:
(1) tidak ada batasan usaha peternakan menjadi zona-zona, baik zona 1, 2, 3 maupun 4,
(2) selalu diusaha dengan menggunakan kandang system terbuka,
(3) kebanyakan peternak memelihara ayam dalam satu siklus dengan berbagai macam variasi umur,
(4) variasi kualitas manajemen yang sangat besar khususnya untuk zona 3 dan 4,
(5) pakan-pakan yang masih dikemas dalam kantong yang disinyalir menimbulkan dampak lain yang berpengaruh pada kesehatan ayam dan
(6) komposisi tenaga kerja yang melebihi kapasitas populasi ayam yang dipelihara.
Disamping itu, pasar-pasar masih bersifat tradisional. Ayam-ayam dipasarkan dalam bentuk hidup dengan kondisi tempat yang kotor, hal ini memungkinkan terjadinya penyebaran berbagai jenis penyakit selain penyakit avian influenza. Lantas usaha apa yang bisa diterapkan dalam usaha pengendalian VAI ?
Prof Charles menegaskan bahwa hanya dengan penerapan biosekuriti yang benar-benar dengan berpedoman pada 9 strategi pengendalian VAI. Kemudian yang terpenting dari hal ini adalah monitoring dan evaluasi kegiatan, gagal atau berhasil ? Bila dijumpai kegagalan, kaji kembali penyebab kegagalan tersebut, namun bila berhasil maka pertahankanlah dan tingkatkan lagi. (Daman Suska).
Artikel-Artikel
-
▼
2009
(64)
-
▼
January
(63)
- BALI BEBAS RABIES TINGGAL KENANGAN
- SINAR X UNTUK KEDOKTERAN HEWAN
- KONGRES ILMIAH INTERNASIONAL BAGI DOKTER HEWAN
- SEMINAR UNTUK BERJAYANYA PETERNAKAN
- INDOLIVESTOCK TETAP BERJAYA
- PEMAIN BARU PUN BERJAYA DI AJANG INDOLIVESTOCK
- ASOHI, PT Gallus dan Infovet di Ajang Indolivestoc...
- PARA PEMERAN BISNIS SUKSES
- SISI INTERNAL SISKESWANAS DAN PERDAGANGAN BEBAS
- SEMINAR SPESIFIK PERUNGGASAN DALAM KRISIS GLOBAL
- JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK
- KIAT MEMILIH DAGING SEHAT DAN HALAL
- SOLUSI GIZI BURUK DAN KEMISKINAN ENERGI
- GUMBORO PADA AYAM BROILER MODERN
- Kemasan Diri
- ASOHI JATENG SYAWALAN
- Alltech Luncurkan Young Scientist Award 2008-2009
- SAATNYA REKONSTRUKSI KANDANG :OPEN ATAU CLOSE HOUS...
- PERBAIKAN TATA LAKSANAMencegah Kerugian di Farm da...
- MUNGKINKAH TERNAK GIZI BURUK?
- KIAT PETERNAK MENGAIS UNTUNG DI KANDANG
- PADA BROILER MODERN “FUNGSI PEMANAS = PRODUKTIVITA...
- DEFISIENSI VITAMIN A DAN E
- STRES PANAS JUGA TURUNKAN IMUNITAS
- SOLUSI PENGENDALIAN AI PADA BROILER
- PROYEK MONITOR AI UNTUK KEBIJAKAN TEPAT
- KABAR TERBARU :ASCITES (PULMONARY HIPERTENSION SYN...
- Praktisi Perunggasan dan AI di Indonesia
- Peran Sentral Pasar Unggas dalam Penyebaran AI
- 5 TAHUN AI DI INDONESIA OPTIMISME PERUNGGASAN HARU...
- MONITORING VARIAN VIRUS HPAI KITA
- MENGUAK TABIR AVIAN INFLUENZA
- EFEKTIFKAN BIAYA VAKSINASI
- AI dan Dunia Peternakan di Mata Mahasiswa Peternak...
- SULITNYA BETERNAK SAAT INI, APA SOLUSINYA?
- STRAIN VAKSIN GENETIK REVERSE UNTUK MASA DEPAN
- LALAT VEKTOR AI SEBUAH TELAAH UP DATE
- HARAPAN TERBENTANG PERUNGGASAN 2009
- DI MASA KRISIS:BERUNTUNGLAH PETERNAK!
- YANG HARUS DIKERJAKAN PETERNAK 2009
- Pemanasan Global dan Penyakit 2009
- Penelitian Kemitraan Broiler
- Leucocytozoonosis, dari Gejalanya sampai Penangana...
- KETIKA 500 PETERNAK PRIANGAN TIMUR MEMETAKAN DIRI
- AYAM BANGKAI KAPAN BERAKHIR ?
- 3 TAHAP PRODUKSI DAGING EFISIEN
- TIDAK ADA CERITANYA PETERNAK BROILER RUGI?
- CAMAR DI PETERNAKAN BROILER
- Waspada 3 Penyakit Utama Penyebab Turunnya Produks...
- SEJARAH SI GALLUS AYAM PETELUR
- Produksi Telur Turun, Perhatikan Kualitas Pakan da...
- Sumber Multivita Gandeng FKH IPB Update Info AI Te...
- ND, EDS, IB, Pakan, Kandang dan Penurunan Produksi...
- Produksi Telur Ayam Kampung di Sisi Ayam Ras
- Mempertimbangkan Vaksinasi Yang Banyak Sekali
- Ketika Virus ND dan EDS Diteliti Untuk Cari Virus ...
- Kenali Penyebab Turunnya Produksi Telur
- Jangan Lupakan Tubuh Ayam
- EDS dan Vaksin Lokal
- Diagnosalah Penurunan Produksi Telur
- AMATILAH SI TELUR AYAM
- 21 HARI AYAM BERTELUR
- MENERUSKAN CITA-CITA
-
▼
January
(63)
0 komentar:
Post a Comment